PENDAHULUAN
Latar Belakang
Penilaian autentik memiliki relevansi terhadap pendekatan ilmiah dalam
pembelajaran sesuai tuntutan Kurikulum 2013 yang mampu menggambarkan
peningkatan hasil belajar peserta didik melalui 5 M. Mengamati, Menanya,
Mengumpulkan Informasi, Mengasosiasikan, dan Mengomunikasikan.
Penilaian autentik bertujuan untuk mengukur berbagai keterampilan
dalam berbagai konteks yang mencerminkan situasi di dunia nyata, Penilaian
autentik dalam implementasi kurikulum 2013 mengacu kepada penilaian kompetensi
sikap melalui observasi, penilaian diri, penilaian “teman sejawat” oleh peserta
didik dan jurnal, pengetahuan melalui tes tulis, tes lisan, dan penugasan,
keterampilan melalui penilaian kinerja, yaitu penilaian yang menuntut peserta
didik mendemonstrasikan suatu kompetensi tertentu dengan menggunakan tes
praktik, projek,, dan penilaian portofolio.
Implementasi Kurikulum 2013 sangat berimplikasi pada
model penilaian pencapaian kompetensi peserta didik. Penilaian pencapaian
kompetensi merupakan proses sistematis dalam mengumpulkan, menganalisis dan
menginterpretasi informasi untuk menentukan sejauhmana peserta didik telah
mencapai tujuan pembelajaran.
Sesuai dengan Peraturan Menteri Pendidikan dan
Kebudayaan No. 66 Tahun 2013 tentang Standar Penilaian Pendidikan yang
disempurnakan dengan adanya lampiran III yang mengatur Pedoman Mata Pelajaran
(PMP) telah menggambarkan bagaimana penilaian setiap mata pelajaran yang
notabennya memiliki karakteristik masing-masing. Penilaian pencapaian kompetensi
oleh pendidik dilakukan untuk memantau proses, kemajuan, perkembangan
pencapaian kompetensi peserta didik sesuai dengan potensi yang dimiliki dan
kemampuan yang diharapkan secara berkesinambungan. Penilaian juga dapat
memberikan umpan balik kepada pendidik agar dapat menyempurnakan perencanaan
dan proses pembelajaran.
Penilaian oleh pendidik merupakan suatu proses yang
dilakukan melalui langkah-langkah perencanaan, penyusunan alat penilaian,
pengumpulan informasi melalui sejumlah bukti yang menunjukkan pencapaian
kompetensi peserta didik, pengolahan dan pemanfaatan informasi tentang
pencapaian kompetensi peserta didik. Penilaian tersebut dilakukan melalui
berbagai teknik/cara, seperti penilaian unjuk kerja (performance),
penilaian sikap, penilaian tertulis (paper and pencil test), penilaian
projek, penilaian produk, penilaian melalui kumpulan hasil kerja/karya peserta
didik (portfolio), dan penilaian diri.
Ciri penilaian autentik antara
lain adalah: 1) Memandang
penilaian dan pembelajaran secara terpadu.;2) Mencerminkan masalah dunia nyata
bukan hanya dunia sekolah.; 3) Menggunakan berbagai cara dan kriteria; 4)
Holistik (kompetensi utuh merefleksikan sikap, keterampilan, dan
pengetahuan.
Penilaian pencapaian kompetensi baik formal maupun
informal diadakan dalam suasana yang menyenangkan, sehingga memungkinkan
peserta didik menunjukkan apa yang dipahami dan mampu dikerjakannya. Pencapaian
kompetensi seorang peserta didik dalam periode waktu tertentu dibandingkan
dengan hasil yang dimiliki peserta didik tersebut sebelumnya dan tidak
dianjurkan untuk dibandingkan dengan peserta didik lainnya. Dengan
demikian peserta didik tidak merasa dihakimi oleh pendidik tetapi dibantu untuk
mencapai kompetensi atau indikator yang diharapkan.
Rumusan Masalah
- Apakah penilaian autentik itu?
- Apa saja jenis-jenis penilaian autentik itu?
- Hal-hal apa sajakah yang berkaitan dengan penilaian kinerja itu?
- Hal-hal apa sajakah yang berkaitan dengan penilaian proses itu?
- Hal-hal apa sajakah yang berkaitan dengan penilaian portofolio itu?
- Bagaimakah bentuk instrumen dari penilaian autentik itu?
Penilaian otentik (Authentic Assessment) adalah
pengukuran yang bermakna secara signifikan atas hasil belajar peserta didik
untuk ranah sikap, keterampilan, dan pengetahuan. Istilah Assessment
merupakan sinonim dari penilaian, pengukuran, pengujian, atau evaluasi.
Sedangkan istilah otentik merupakan sinonim dari asli, nyata,
valid, atau reliabel.
Secara konseptual penilaian otentik lebih bermakna
secara signifikan dibandingkan dengan tes pilihan ganda terstandar
sekali pun. Ketika menerapkan penilaian otentik untuk mengetahui hasil dan
prestasi belajar peserta didik, pendidik menerapkan kriteria yang berkaitan
dengan konstruksi pengetahuan, aktivitas mengamati dan mencoba, dan nilai prestasi
luar pembelajaran.
Penilaian otentik memiliki relevansi kuat terhadap
pendekatan ilmiah dalam pembelajaran sesuai dengan tuntutan Kurikulum 2013.
Penilaian tersebut mampu menggambarkan peningkatan hasil belajar peserta
didik, baik dalam rangka mengobservasi, menalar, mencoba, membangun jejaring,
dan lain-lain. Penilaian otentik cenderung fokus pada tugas-tugas kompleks atau
kontekstual, memungkinkan peserta didik untuk menunjukkan kompetensi mereka
dalam pengaturan yang lebih otentik.
Penilaian otentik merupakan suatu bentuk tugas yang
menghendaki peserta didik untuk menunjukkan kinerja di dunia nyata secara
bermakna, yang merupakan penerapan esensi pengetahuan dan keterampilan.
Penilaian otentik juga menekankan kemampuan peserta didik untuk mendemonstrasikan
pengetahuan yang dimiliki secara nyata dan bermakna. Kegiatan penilaian tidak
sekedar menanyakan atau menyadap pengetahuan, melainkan kinerja secara nyata
dari pengetahuan yang telah dikuasai sehingga penilaian otentik merupakan
penilaian yang dilakukan secara komprehensif untuk menilai mulai dari masukan (input),
proses,dan keluaran (output) pembelajaran.
Penilaian otentik bertujuan untuk mengukur berbagai
keterampilan dalam berbagai konteks yang mencerminkan situasi di dunia nyata di
mana keterampilan-keterampilan tersebut digunakan. Misalnya, penugasan kepada
peserta didik untuk menulis topik-topik tertentu sebagaimana halnya di
kehidupan nyata, dan berpartisipasi konkret dalam diskusi atau bedah buku,
menulis untuk jurnal, surat, atau mengedit tulisan sampai siap cetak. Jadi,
penilaian model ini menekankan pada pengukuran kinerja, doing something,
melakukan sesuatu yang merupakan penerapan dari ilmu pengetahuan yang telah
dikuasai secara teoretis.
Penilaian otentik lebih menuntut pembelajar mendemonstrasikan
pengetahuan, keterampilan, dan strategi dengan mengkreasikan jawaban atau
produk. Peserta didik tidak sekedar diminta merespon jawaban seperti dalam tes
tradisional, melainkan dituntut untuk mampu mengkreasikan dan menghasilkan
jawaban yang dilatarbelakangi oleh pengetahuan teoretis.
Penilaian otentik dalam implementasi kurikulum 2013
mengacu kepada standar penilaian yang terdiri dari:
1.
Penilaian
kompetensi sikap melalui observasi, penilaian diri, penilaian “teman sejawat”(peer
evaluation) oleh peserta didik dan jurnal
2.
Pengetahuan
melalui tes tulis, tes, lisan, dan penugasan.
3.
Keterampilan
melalui penilaian kinerja, yaitu penilaian yang menuntut peserta didik
mendemonstrasikan suatu kompetensi tertentu dengan menggunakan tes praktik,
projek, dan penilaian portofolio
Penilaian Kinerja
Penilaian autentik sebisa mungkin melibatkan
parsisipasi peserta didik, khususnya dalam proses dan aspek-aspek yang akan
dinilai. Guru dapat melakukannya dengan meminta para peserta didik menyebutkan
unsur-unsur proyek/tugas yang akan mereka gunakan untuk menentukan kriteria
penyelesaiannya. Cara merekam hasil penilaian berbasis kinerja: Daftar cek
(checklist), Catatan anekdot/narasi (anecdotal/narative records), Skala
penilaian(rating scale), Memori atau ingatan (memory approach).
Penilaian Proyek
Penilaian proyek (project assessment) merupakan
kegiatan penilaian terhadap tugas yang harus diselesaikan oleh peserta didik
menurut periode/waktutertentu. Penyelesaian tugas dimaksud berupa investigasiyang
dilakukan oleh peserta didik, mulai dari perencanaan, pengumpulan data,
pengorganisasian, pengolahan, analisis, dan penyajian data.
Tiga hal yang perlu diperhatikan guru dalam
penilaian proyek:1) Keterampilan peserta didik dalam memilih topik, mencari dan
mengumpulkan data, mengolah dan menganalisis, memberi makna atas informasi yang
diperoleh, dan menulis laporan; 2) Kesesuaian atau relevansimateri pembelajaran
dengan pengembangan sikap, keterampilan, dan pengetahuan yang dibutuhkan oleh
peserta didik; 3) Keaslian sebuah proyek pembelajaran yang dikerjakan atau
dihasilkan oleh peserta didik.
Penilaian proyek (project assessment)
merupakan kegiatan penilaian terhadap tugas yang harus diselesaikan oleh
peserta didik menurut periode/waktu tertentu. Penyelesaian tugas dimaksud
berupa investigasi yang dilakukan oleh peserta didik, mulai dari
perencanaan, pengumpulan data, pengorganisasian, pengolahan, analisis,dan
penyajian data.
Portofolio
Penilaian portofolio merupakan penilaian atas
kumpulan artefak yang menunjukkan kemajuan dan dihargai sebagai hasil kerja
dari dunia nyata. Penilaian portofolio bisa berangkat dari hasil kerja peserta
didik secara perorangan atau diproduksi secara berkelompok, memerlukan refleksi
peserta didik, dan dievaluasi berdasarkan beberapa dimensi.
Penilaian portofolio dilakukan dengan menggunakan
langkah-langkah seperti berikut ini.1) Guru menjelaskan secara ringkas
esensi penilaian portofolio; 2) Guru atau guru bersama peserta didik menentukan
jenisportofolioyang akandibuat; 3) Peserta didik, baik sendiri maupun kelompok,
mandiri atau di bawah bimbingan guru menyusun portofolio pembelajaran;4) Guru
menghimpun dan menyimpan portofolio peserta didik pada tempat yang sesuai,
disertai catatan tanggal pengumpulannya; 5) Guru menilai portofolio peserta
didik dengan kriteria tertentu; 6) Jika memungkinkan, guru bersama peserta
didik membahas bersama dokumen portofolio yang dihasilkan; 7) Guru memberi
umpan balik kepada peserta didik atas hasil penilaian portofolio.
Penilaian Tertulis
Tes tertulis berbentuk uraian atau esai menuntut
peserta didik mampu mengingat, memahami, mengorganisasikan, menerapkan,
menganalisis, mensintesis, mengevaluasi, dan sebagainya atas materi yang sudah
dipelajari. Tes tertulis berbentuk uraian sebisa mungkin bersifat komprehensif,
sehingga mampu menggambarkan ranah sikap, pengetahuan, dan keterampilan peserta
didik.
Penilaian tertulis adalah penilaian yang menuntut
peserta didik memberi jawaban secara tertulis berupa pilihan dan/atau isian.
Penilaian tertulis yang dikembangkan dalam penilaian otentik lebih dutekankan
pada penilaian tertulis yang jawabannya berupa isian dapat berbentuk isian
singkatdan/atau uraian.
Soal dengan mensuplay jawaban terdiri dari Isian
atau melengkapi, Jawaban singkat atau pendek, dan Soal uraian. Teknik penilaian
tes tertulis uraian adalah alat penilaian yang menuntut peserta didik untuk
mengingat, memahami, mengorganisasikan gagasan yang sudah dipelajari dengan
cara mengemukakan atau mengekspresikan gagasan tersbut dalam bentuk uraian
tulisan. Teknik ini dapat digunakan untuk menilai berbagai jenis kemampuan,
yaitu mengemukakan pendapat, berpikir logis, kritis, sistematis dan
menyimpulkan.
Penyusunan instrumen penilaian tertulis perlu
mempertimbangkan Substansi, misalnya kesesuaian butir soal dengan indikator
soal dan indikator pembelajaran; Konstruk, misalnya rumusan soal atau
pertanyaan harus jelas dan tegas;Bahasa, misalnya rumusan soal tidaak
menggunakan kata/kalimat yang menimbulkan penafsiran ganda.
Soal bentuk uraian non-objektif tidak dapat
diskor secara objektif, karena jawaban yang dinilai dapat berupa opini
atau pendapat peserta didik sendiri, bukan berupa konsep kunci yang sudah
pasti. Pedoman penilaiannya berupa kriteria-kriteria jawaban. Setiap kriteria
jawaban diberi rentang skor tertentu, misalnya 0 – 5. Tidak ada jawaban untuk
suatu kriteria diberi skor 0. Besar- kecilnya skor yang diperoleh peserta
didik untuk suatu kriteria ditentukan berdasarkan tingkat kesempurnaan jawaban.
Penilaian Lisan
Tes lisan yakni tes yang pelaksanaannya dilakukan
denganmengadakan tanya jawab secara langsung antara pendidik dan
pesertadidik Penilaian lisan sering digunakan oleh pendidik di kelas
untuk menilai peserta didik dengan cara memberikan beberapa pertanyaan secara
lisan dan dijawab oleh peserta didik secara lisan juga.
Pertanyaan lisan merupakan variasi dari tes
uraian. Penilaian ini sering digunakan pada ujian akhir mata pelajaran agama
dan sosial. Kelebihan penilaian ini antara lain: memberikan kesempatan kepada
pendidik dan peserta didik untuk menentukan sampai seberapa baik pendidik atau
peserta didik dapat menyimpulkan atau mengekspresikan dirinya, peserta didik
tidak terlalu tergantung untuk memilih jawaban tetapi memberikan jawaban
yang benar, peserta didik dapat memberikan respon dengan bebas. Penilaian lisan
bertujuan untuk mengungkapkan sebanyak mungkin pegetahuan dan pemahaman peserta
didik tentang materi yang diuji. Sedangkan kelemahan tes lisan antara
lain subjektivitas pendidik sering mencemari hasil tes dan waktu pelaksanaan
yang diperlukan relatif cukup lama.
Penilaian lisan dapat dilakukan dengan dengan
teknik sebagai berikut: 1) Sebelum dilaksanakan tes lisan, pendidik
sudah melakukan inventarisasi berbagai jenis soal yang akan diajukan kepada
peserta didik, sehingga dapat diharapkan memiliki validitas yang tinggi dan
baik dari segi isi maupun konstruksinya; 2) Siapkan pedoman dan ancar-ancar
jawaban bentuknya, agar mempunyai kriteria pasti dalam penskoran dan
tidak terkecok dengan jawaban yang panjang lebar dan berbelit-belit; 3) Skor
ditentukan saat masing-masing peserta didik selesai dites, agar pemberian skor
atau nilai yang diberikan tidak dipengaruhi oleh jawaban yang diberikan oleh
peserta didik yang lain; 4) Tes yang diberikan hendaknya tidak menyimpang atau
berubah arah dari evaluasi menjadi diskusi; 5) Untuk menegakan obyektivitas dan
prinsip keadilan, Pendidik tidak diperkenankan memberikan angin segar
atau memancing dengan kata-kata atau kode tertentu yang bersifat menolong
peserta didik dengan aalasan kasihan atau rasa simpati; 6) Tes lisan harus
berlangsung secara wajar. Artinya jangan sampai menimbulkan rasa takut, gugup
atau panik di kalangan peserta didik;7) Pendidik mempunyai pedoman waktu
bagi peserta didik dalam menjawab soal-soal atau pertanyaan pada tes lisan;8)
Pertanyaan yang diajukan hendaknya bervariasi, dalam arti bahwa sekalipun
inti persoalan yang ditanyakan sama, namun cara pengajuan pertanyaannya dibuat
berlainana atau beragam; 9) Pelaksanaan tes dilakukan secara
individual (satu demi satu), agar tidak mempengaruhi mental peserta didik yang
lainnya.
Penilaian Praktik
Penilaian Praktek dilakukan dengan cara mengamati
kegiatan peserta didik dalam melakukan aktivitas pembelajaran. Penilaian ini
cocok digunakan untuk menilai ketercapaian kompetensi atau indikator
keberhasilan yang menurut peserta didik menunjukkan unjuk kerja, misalnya
bermain peran, memainkan alat musik, bernyanyi, membaca puisi, menggunkan
peralatan laboratorium, mengoperasikan komputer.
Penilaian praktik perlu mempertimbangkan:
langkah-langkah kinerja yang diharapkan dilakukan peserta didik untuk
menunjukkan kinerja dari suatu kompetensi, kelengkapan dan ketepatan aspek yang
akan dinilai dalam kinerja tersebut, kemampuan khusus yang diperlukan untuk
menyelesaikan tugas, upayakan kemampuan yang akan dinilai tidak terlalu banyak,
sehingga semua dapat diamati, dan kemampuan yang akan dinilai diurutkan
berdasarkan urutan yang akan diamati.
Teknik Penilaian Praktik dibagi dua macam, yaitu
daftar cek dan skala rentang. Daftar Cek Pada penilaian praktek yang
menggunakan daftar cek (ya – tidak), peserta didik mendapat nilai apabila
kriteria penguasaaan kompetensi tertentu dapat diamati oleh penilai. Kelemahan
teknik penilaian ini ialah penilai hanya mempunyai dua pilihandan tidak
menpunyai nilai tengah. Misalnya benar-salah, dapat diamati-tidak dapat
diamati. Sedangkan Skala Rentang pada penilaian unjuk kerja memungkinkan
penilai memberikan skor tengah terhadap penguasaan kompetensi tertentu. Karena
pemberian nilai secara kontinuum di mana pilihan kategori nilai lebih dari dua,
misalnya sangat kompeten – kompeten – tidak kompeten.- sangat tidak
kompeten. Penilaian skala rentang sebaiknya dilakukan oleh lebih
dari satu orang agar faktor sujektivitas dapat diperkecil dan hasil penilaian
lebih akurat.
1.
Keunggulan Kinerja
Penilaian kinerja dapat menilai
proses dan produk pembelajaran. Pada pembelajaran sains, penilaian kinerja
lebih menekankan pada proses apabila dibandingkan dengan hasil. Penilaian
proses secara langsung tentu lebih baik karena dapat memantau siswa secara
otentik. Namun seringkali penilaian proses secara langsung tersebut tidak
dimungkinkan karena pengerjaan tugas siswa memerlukan waktu lama sehingga siswa
harus mengerjakannya di luar jam pelajaran sekolah. Untuk mengatasi hal
tersebut, penilaian terhadap proses dan usaha siswa dapat dilakukan terhadap
produk. Melalui produk yang dihasilkan dapat dilihat kemampuan siswa dalam
melakukan tahapan-tahapan penyelesaian. Hal ini menyebabkan penilaian kinerja
memiliki keunggulan untuk pembelajaran sains jika dibandingkan dengan tes
tradisional yang berorientasi pada pencapaian hasil belajar.
Penilaian kinerja memiliki beberapa
kekuatan yang apabila dibandingkan dengan penilaian tradisional, yaitu:
- Penilaian kinerja dapat mengukur kemampuan yang tidak dapat diukur menggunakan alat penilaian lainnya.
- Penggunaan penilaian kinerja sesuai dengan teori belajar modern.
- Penggunaan penilaian kinerja memungkinkan hasil dalam pengajaran yang lebih baik.
- Dengan penilaian kinerja dapat mencapai pembelajaran bermakna dan membantu memotivasi siswa.
- Penilaian kinerja dapat menilai proses dan produk pembelajaran.
- Penggunaan penilaian kinerja memperluas pendekatan untuk penilaian.
- Kelemahan penilaian kinerja
- Sukar untuk melakukan penyekoran penilaian kinerja dengan cara yang reliabel.
- Penilaian kinerja menyediakan sampel yang terbatas dari domain isi, dan sukar untuk membuat generalisasi tentang keterampilan dan pengetahuan proses siswa.
- Penilaian kinerja cukup memakan waktu dan sangat kompleks.
- Pada kenyataannya ada hal-hal yang dapat membatasi penggunaan penilaian kinerja, seperti persyaratan dan material peralatan yang dibutuhkan.
- Penyusunan Perangkat Penilaian
Perangkat penilaian kinerja dapat
dikembangkan dengan melakukan uji coba dalam pembelajaran. guru dapat menguji
dan mengembangkan task-task (tugas) dan rubrik penilaian kinerj agar cocok
dengan kondisi di kelasnya serta sesuai dengan kemampuan siswa. Hasil uji coba
dapat dijadikan sebagai dasar perbaikan perangkat penilaian kinerja agar
menjadi lebih feasible (dapat dikerjakan), lengkap dan aman dilakukan.
Metode-metode yang dapat digunakan
untuk penilaian kinerja antara lain: observasi, interviu, portofolio, penilaian
essay, ujian praktik, paper, penilaian proyek, kuisioner, daftar cek (check
list), penilaian oleh teman (peer rating), penilaian diskusi, dan
penilaian jurnal kerja ilmiah siswa. Langkah-langkah yang perlu ditempuh ketika
menyusun penilaian kinerja antara lain:
- Menentukan indikator kinerja yang akan dicapai siswa.
- Memilih fokus asesmen (menilai proses/prosedur, produk, atau keduanya).
- Memilih tingkat realism yang sesuai (menentukan seberapa besar tingkat keterkaitannya dengan kehidupan nyata).
- Memilih metode observasi, pencatatan, dan penskoran.
- Menguji coba task dan rubrik berdasarkan hasil uji coba untuk digunakan dalam pembelajaran berikutnya.
Pada praktiknya bentuk penilaian
kinerja yang paling sering dilakukan adalah dengan menggunakan daftar cek (ya –
tidak) dan skala penilaian.
- Daftar Cek
Pada penilaian kinerja menggunakan
daftar cek (ya – tidak) peserta didik mendapat
kriteria penguasaan kemampuan tertentu dapat diamati oleh guru. Jika
tidak dapat diamati, siswa tidak memperoleh nilai. Kelemahan cara ini adalah
penilai hanya mempunyai dua pilihan mutlak, misalnya benar-salah, atau dapat
diamati-tidak dapat diamati. Dengan demikian tidak terdapat nilai (kemampuan)
tengah.
- Skala Penilaian
Penilaian kinerja menggunakan skala
rentang memungkinkan guru untuk memberi nilai tengah terhadap penguasaan kompetensi
tertentu karena pemberian nilai ini dengan kategori nilai lebih dari dua. Skala
rentang tersebut misalnya, sangat baik – baik – cukup – kurang. Penilaian
sebaiknya dilakukan oleh lebih dari satu penilai agar faktor subyektivitas
dapat diperkecil dan hasil penilaian lebih akurat. Penilaian dengan skala
penilaian yang baik pada dasarnya masih harus dilengkapi dengan rubrik.
PROSES dan PRODUK
Penilaian proses merupakan penilaian pembelajaran yang
menekankan pada proses belajar, aktivitas dan kreativitas peserta didik dalam
memperoleh pengetahuan, keterampilan, sikap dan nilai serta menerapkannya dalam
kehidupan sehari-hari. Dalam pengertian terebut termasuk diantaranya
keterlibatan fisik, mental dan sosial peserta didik dalam proses pembelajaran untuk
mencapai tujuan. Indikator pendekatan penilaian proses antara lain; kemampuan
mengidentifikasi, mengklasifikasikan, menghitung, mengukur, mengamati, mencari
hubungan, menafsirkan, menyimpulkan, mengkomunikasikan, menerapkan,
mengekspresikan diri dalam suatu kegiatan untuk menghasilkan suatu karya.
Penilaian produk dapat juga dikatakan penilaian
terhadap proses pembuatan dan kualitas suatu produk. Atau dengan kata lain
asesmen produk merupakan ragam penilaian untuk menilai kemampuan siswa dalam
membuat produk tertentu, seperti : teknologi tepat guna, karya seni, keramik,
lukisan dan lain-lain. Asesmen produk dapat digunakan untuk menilai proses
maupun hasil belajar siswa.
Pengembangan produk meliputi tiga tahap, yaitu tahap
persiapan, tahap pembuatan produk dan tahap penilaian produk.
Dengan demikian, penetapan kriteria harus disesuaikan
degnan perkembangan usia anak dan kriteria tidak bersifat kaku. Kenyataan di
lapangan menunjukan bahwa penilaian proses dan produk dilakukan guru sebatas
pengetahuan yang dimiliki guru tentang seni lukis, karena latar belakang
pendidikan bukan dari bidang seni rupa. Sebagai guru kelas dan tidak pernah
mendapat pelatihan tentang penilaian seni lukis sehingga guru mengalmi
kesulitan dalam menilai proes dan produk karya seni lukis. Hal ini disebabkan
karena tidak ada kriteria yang dapat dijadikan sebagai pedoman dalam menilai
proses dan produk karya seni lukis peserta didik tersebut. Pengemangan produk
meliputi tiga tahap yaitu:
1. Tahap
persiapan, meliputi penilaian kemampuan peserta didik dan merencanakan,
menggali, dan mengembangkan gagasan dan mendesain produk
2. Tahap
pembuatan produk (proses) meliputi kemampuan peserta didi dalam menyeleksi dan
menggunakan bahan, alat dan teknik.
3. Penilaian
produk (appraisal) meliputu; penilaian produk yang dihasilkan peserta didik
sesuai dengan kriteria yang ditentukan.
Penilaian produk biasanya menggunakan cara holistik
atau analitik:
1. Cara
analitik, yaitu berdasarkan aspek-aspek produk biasa yang dilakukan terhadap
semua kriteria yang dapat pada semua tahap proses pengembangan
2. Cara
holistik, yaitu berdasarkan kesan keseluruhan dari produk, biasanya dilakukan
pada tahap appraisal.
PORTOFOLIO
1.
Pengertian Portofolio
Arti asli portofolio adalah a
hinged cover or flexible case for carrying loose papers, pictures, or phamplets
(semacam map, kotak, atau tas yang fleksibel untuk dipakai membawa
surat-surat [dokumen-dokumen] lepas, gambar-gambar, atau pamfle-pamfet lepas).
Jadi, portofolio berupa suatu koleksi hasil kerja seseorang yang berupa
kumpulan dokumen secara lepas. Dengan melihat koleksi itu, seseorang dapat
menelusuri riwayat perkembangan prestasi atau apa pun yang telah dicapainya
(Soewandi, 2005).
Di dunia perusahaan, portofolio
diberi makna kumpulan dokumen yang dimiliki perusahaan dan dipergunakan untuk
menilai keberhasilan proses pencapaian tujuan suatu program atau rencana
produksi (Surapranata dan Hatta, 2004: 26). Di dunia fotografer portofolio juga
diberi makna kumpulan dokumen yang akan dipakai untuk memperlihatkan prospektif
pekerjaannya kepada pelanggan dengan menunjukkan koleksi pekerjaan yang
dimilikinya (Surapranata dan Hatta, 2004: 30). Di dunia kesehatan, portofolio
berupa dokumen yang digunakan untuk memantau perkembangan kesehatan seseorang.
Di dunia pendidikan, secara umum portofolio berarti juga kumpulan evidence (dokumen,
bukti) yang berisi informasi tentang kemampuan dan perkembangan peserta didik
dari waktu ke waktu (Surapranata dan Hatta, 2004: 30).
Pengertian portofolio seperti itu
diadopsi ke dalam sistem pendidikan, dan secara khusus diadopsi menjadi salah
satu alat penilaian, khususnya untuk menilai: (a) proses belajar, (b) hasil
belajar, atau (c) proses dan hasil belajar peserta didik (Cole, Ryan, dan Kick,
1995 dalam Surapranata dan Hatta, 2004: 46; Depdiknas, 2004: 9). Akan tetapi
yang perlu dipahami juga bahwa penilaian pembelajaran dengan portofolio tidak
boleh meniadakan penilaian dengan cara-cara lain, misalnya, dengan tes,
perbuatan, atau yang lain.
Selain itu, portofolio dapat
digunakan untuk melihat perkembangan peserta didik dari waktu ke waktu
berdasarkan kumpulan hasil karya sebagai bukti dari suatu kegiatan. Portofolio
juga dapat dipandang sebagai suatu proses social pedagogis, yaitu sebagai collection
of learning experiences yang terdapat di dalam pikiran peserta didik, baik
yang berwujud pengetahuan (cognitive), keterampilan (psycomotor),
maupun sikap dan nilai (affective). Artinya, portofolio bukan hanya
berupa benda nyata, melainkan mencakup segala pengalaman bathiniah yang terjadi
pada diri siswa (Arifin, 2010:4).
Menurut para ahli, portofolio
memiliki beberapa pengertian. Ada yang memandang sebagai benda, dan ada pula
yang memandang sebagai pendekatan. Portofolio sebagai suatu wujud benda fisik,
berarti bahwa portofolio itu merupakan suatu kumpulan dokumentasi atau hasil
pekerjaan seseorang (peserta didik) yang disimpan dalam suatu bundel. Misalnya,
bundelan hasil kerja siswa mulai dari tes awal, tugas-tugas, catatan anekdot,
piagam penghargaan, keterangan melaksanakan tugas terstruktur, sampai kepada
tes akhir. Portofolio ini merupakan kumpulan karya terpilih dari seorang siswa
atau sekelompok siswa.
Portofolio dipandang sebagai suatu
pendekatan berti bahwa porotofolio adalah suatu pendekatan penilaian yang
bertujuan mengukur sejauhmana kemampuan peserta didik dalam mengkonstruksi dan
merefleksi suatu pekerjaan atau tugas atau karya melalui pengumpulan (collection)
bahan-bahan yang relevan dengan tujuan dan keinginan yang dikonstruksi oleh
peserta didik, sehingga hasil konstruksi tersebut dapat dinilai dan dikomentari
oleh guru dalam periode tertentu.
2.
Kelebihan dan Kelemahan Portofolio
Kelebihan pendekatan portofolio
adalah memberikan kesempatan kepada peserta didik untuk lebih banyak terlibat
dan siswa sendiri dapat dengan mudah mengontrol sejauhmana perkembangan yang
telah diperolehnya. Sehingga peserta didik mampu melakukan self-assessment.
Keterampilan menemukan kelebihan dan kekurangannya sendiri, serta kemampuan
untuk menggunakan kelebihan tersebut dalam mengatasi kelemahannya merupakan
modal dasar penting dalam proses pembelajaran.
Miller (2009:290) secara rinci
menyebutkan ada delapan kelebihan portofolio, yaitu:
- Karena portofolio terdiri dari produk pembelajaran di kelas, mereka dapat diinstruksikan dengan pembelajaran.
- Portofolio memberikan siswa kesempatan untuk memperlihatkan apa yang mereka bisa lakukan.
- Portofolio dapat mendorong siswa menjadi siswa yang reflektif dan mengembangkan kemampuan dalam menilai kelebihan dan kekurangan kerja mereka.
- Portofolio dapat membantu siswa bertanggung jawab untuk menetapkan tujuan dan mengevaluasi kemajuan.
- Portofolio memberikan kesempatan kepada guru dan siswa untuk berkolaborasi dan merefleksikan kemajuan siswa.
- Portofolio dapat menjadi cara efektif untuk berkomunikasi dengan orang tua dengan memperlihatkan contoh nyata dari pekerjaan siswa dan memperlihatkan kemajuan siswa.
- Portofolio dapat menyediakan sebuah mekanisme untuk membahas tentang pembelajaran yang bersifat student-centered dan student-directed.
- Portofolio dapat memberikan contoh konkrit kepada orang tua tentang perkembangan siswa dari waktu ke waktu sekaligus keterampilan siswa saat ini.
Selain mempunyai kelebihan,
portofoilio juga mempunyai kelemahan. Sumarna n Muhammad Hatta (2004: 73–74,
90–96), menyebutkan beberapa kelemahan, antara lain, sebagai berikut.
- Di beberapa negara banyak guru mengalami kesulitan karena adanya kebiasaan guru yang memberikan tes dalam penilaian, dan kebiasaan ini mendarah daging. (Nampaknya keadaan ini juga berlaku bagi sebagian besar guru-guru di Indonesia. Tambahan lagi, kiranya masih juga diragukan apakah benar-benar mereka memahami hakikat tes, cara menyusun tes yang benar, dan cara menilai hasil tes)
- Guru memerlukan waktu ekstra untuk merencanakan dan melaksanakan penilaian dengan portofolio.
- Penilaian dengan portofolio kurang reliabel dibandingkan dengan penilaian-penilaian yang menggunakan ulangan harian, ulangan umum maupun ujian nasional yang menggunakan tes; apalagi penilaian sendiri oleh siswa (self-assessment) seperti yang dianjurkan dalam portofolio.
- Guru memiliki kecenderungan untuk memperhatikan hanya pencapaian akhir. Jika hal ini terjadi, berarti penilaian proses tidak mendapatkan perhatian sewajarnya.
- Guru dan peserta didik biasanya terjebak dalam suasana hubungan top-down: guru tahu segalanya dan peserta didik perlu diberi tahu. Jika demikian, inisiatif dan kreativitas peserta didik tidak berkembang, padahal penilaian dengan portofolio menghendaki adanya kedua hal itu.
- Ada unsur skeptis, khususnya orang tua, karena selama ini keberhasilan anaknya hanya didasarkan pada angka hasil tes akhir, peringkat, dan hal-hal yang bersifat kuantitatif. Padahal penilaian dengan portofolio menghendaki sebaliknya, yaitu penilaian bukan berupa angka. Bagi guru, penilaian bukan berupa angka bukanlah pekerjaan mudah.
- Penilaian dengan portofolio memerlukan tempat penyimpanan evidence (dokumen) yang memadai, apalagi jika jumlah peserta didik cukup besar.
Selain itu, Depdiknas (2004: 6)
mengingatkan adanya dua kelemahan penggunaan portofolio sebagai penilaian.
- Penggunaan portofolio tergantung pada kemampuan siswa dalam menyampaikan uraiannya secara tertulis. Selama siswa belum lancar berbahasa tulis, penggunaan portofolio merupakan beban tambahan yang memberatkan.
- Bagi guru penggunaan portofolio sebagai alat penilaian memerlukan banyak waktu untuk melakukan penskoran, apalagi kalau kelasnya besar.
Oleh karena itu, Depdiknas (2004: 6)
memberikan saran: “… portofolio yang ditugaskan
perlu disesuaikan dengan kemampuan siswa berbahasa tulis Indonesia dan
waktu yang tersedia bagi guru untuk membacanya”.
3. Tujuan dan Fungsi Penilaian Portofolio
Penilaian portofolio bertujuan
sebagai alat formatif dan sumatif. Portofolio sebagai alat formatif digunakan
untuk memantau kemajuan peserta didik dari hari ke hari dan untuk mendorong
peserta didik dalam merefleksi pembelajaran mereka sendiri. Penilaian
portofolio ditujukan juga untuk penilaian sumatif pada akhir semester atau
akhir tahun pelajaran. Hasil penilaian portofolio sebagai alat sumatif ini
dapat digunakan untuk mengisi angka rapor peserta didik, yang menunjukkan
prestasi peserta didik dalam mata pelajaran tertentu.
Di samping itu, tujuan penilaian
portofolio adalah untuk memberikan informasi kepada ang peserta didik secara
lengkap dengan dukungan data dan dokumen yang akurat. Fakta yang paling penting
dalam portofolio adalah digunakannya penilaian tertulis (paper and pencil
assessment), project, produck, dan catatan kemampuan (records of
performance). Supranata dan Hatta (dalam Arifin, 2010:7) mengemukakan bahwa
penilaian portofolio dapat digunakan untuk mencapai beberapa tujuan yaitu:
- Menghargai perkembangan yang dialami peserta didik.
- Mendokumentasikan proses pembelajaran yang berlangsung.
- Memberi perhatian pada prestasi kerja peserta didik yang terbaik.
- Merefleksikan kesanggupan mengambil resiko dan melakukan eksperimentasi.
- Meningkatkan efektifitas proses pengajaran.
- Bertukar informasi dengan orang tua peserta didik dan guru lain.
- Membina dan mempercepat pertumbuhan konsep diri positif pada peserta didik.
- Meningkatkan kemampuan melakukan refleksi diri.
- Membantu peserta didik dalam merumuskan tujuan.
Adapun fungsi penilaian portofolio
adalah sebagai berikut:
- Portofolio sebagai sumber informasi bagi guru dan orang tua untuk mengetahui pertumbuhan dan perkembangan kemampuan peserta didik, tanggung jawab dalam belajar, perluasan dimensi belajar, dan pembaharuan proses pembelajaran.
- Portofolio sebagai alat pengajaran merupakan komponen kurikulum, karena portofolio mengharuskan peserta didik untuk mengkoleksi dan menunjukkan hasil kerja mereka.
- Portofolio sebagai alat penilaian otentik (authentic assessment).
- Portofolio sebagai sumber informasi bagi siswa untuk melakukan self-assessment.
- Kegunaan Penilaian Portofolio
Depdiknas (2003:123) mengemukakan
bahwa pendekatan penilaian portofolio dapat digunakan untuk:
- Memperlihatkan perkembangan pemikiran atau pemahaman siswa pada periode waktu tertentu.
- Menunjukkan suatu pemahaman dari beberapa konsep, topik, dan isu yang diberikan.
- Mendemonstrasikan perbedaan bakat.
- Mendemonstrasikan kemampuan untuk memproduksi atau mengkreasi suatu pekerjaan barus secara orisinal.
- Mendokumentasikan kegiatan selama periode waktu tertentu.
- Mendokumentasikan kemampuan menampilkan suatu karya seni.
- Mendokumentasikan kemampuan mengintegrasikan teori dan praktek.
- Merefleksikan nilai-nilai individu atau pandangan dunia secara lebih luas.
4.
Prinsip-prinsip Penilaian Portofolio
Dalam penilaian portofolio harus
terjadi interaksi multi arah, yaitu dari guru ke siswa, dari siswa ke guru, dan
dari siswa ke siswa. Depdiknas (2003:124) mengemukakan bahwa “Pelaksanaan
penilaian portofolio hendaknya memperhatikan prinsip-prinsip diantaranya mutual
trust, confidentiality, joint ownership, satisfaction, and relevance”.
- Mutual trust (saling mempercayai), artinya bahwa jangan ada saling mencurigai antara guru dan siswa maupun siswa dengan siswa.
- Confidentiality (kerahasiaan bersama), artinya bahwa semua hasil pekerjaan peserta didik dan dokumen yang ada, baik perorangan maupun kelompok, harus dijaga kerahasiaannya, tidak boleh diberikan atau diperlihatkan kepada siapapun sebelum diadakan pameran.
- Joint ownership (milik bersama), artinya bahwa semua hasil pekerjaan peserta didik dan dokumen yang ada harus menjadi milik bersama antara guru dan peserta didik, karena itu harus dijaga bersama, baik penyimpanannya maupun penempatannya.
- Satisfaction (kepuasan), artinya bahwa semua dokumen dalam rangka pencapaian standar kompetensi, kompetensi dasar dan indikator harus dapat memuaskan semua pihak, baik guru maupun siswa, karena dokumen tersebut merupakan bukti karya terbaik peserta didik sebagai hasil pembinaan guru.
- Relevance (kesesuaian), artinya bahwa dokumen yang ada harus sesuai dengan kompetensi yang diharapkan.
Di samping prinsip-prinsip yang
tersebut di atas, Surapranata & Hatta (2004:79) menambahkan tiga prinsip,
yaitu “Penciptaan budaya mengajar, refleksi bersama, serta proses dan hasil”.
- Penciptaan budaya mengajar.
Penilaian portofolio hanya dapat
dilakukan jika pengajarannya pun menggunakan pendekatan portofolio. Penilaian
portofolio akan efektif jika pengajarannya menuntut siswa untuk menunjukkan
kemampuan yang nyata dan menggambarkan pengembangan aspek pengetahuan,
keterampilan, sikap dan nilai pada taraf yang lebih tinggi.
1.
Refleksi
bersama
Penilaian portofolio memberikan
kesempatan untuk melakukan refleksi bersama-sama, di mana siswa dapat
merefleksikan tentang proses berpikir siswa sendiri, kemampuan pemahaman siswa
sendiri, pemecahan masalah, dan pengambilan keputusan.
2.
Proses dan
hasil
Penilaian portofolio harus menilai
proses belajar siswa, misalnya: catatan perilaku harian, sikap belajar,
antusias tidaknya dalam mengikuti pelajaran, dan sebagainya. Penilaian
portofolio juga harus menilai hasil akhir suatu tugas yang diberikan oleh guru.
5.
Jenis Penilaian Portofolio
Apabila dilihat dari jumlah siswa,
maka portofolio dapat dibagi menjadi dua jenis, yaitu portofolio perorangan dan
portofolio kelompok. Menurut Cole, Ryan, & Kick (dalam Arifin, 2010:9)
portofolio dapat dibagi menjadi dua jenis, yaitu portofolio proses dan
portofolio produk.
- Portofolio proses
Portofolio proses menunjukkan
tahapan belajar dan menyajikan catatan perkembangan siswa dari waktu ke waktu.
Portofolio proses menunjukkan kegiatan pembelajaran untuk mencapai standar
kompetensi, kompetensi dasar, dan sekumpulan indikator yang dituntut oleh
kurikulum, serta menunjukkan semua hasil dari awal sampai dengan akhir dalam
kurun waktu tertentu.
Salah satu bentuk portofolio proses
adalah portofolio kerja (working portfolio), yaitu bentuk yang digunakan
untuk memantau kemajuan dan menilai siswa dalam mengelola kegiatan belajar
siswa sendiri. Siswa mengumpulkan semua hasil kerja termasuk coretan-coretan,
buram, catatan, kumpulan untuk rangsangan, buram setengah jadi, dan pekerjaan
yang sudah selesai.
2. Portofolio produk
Portofolio produk yaitu bentuk
penialaian portofolio yang hanya menekankan pada penguasaan materi adri tugas
yang dituntut dalam standar kompetensi, kompetensi dasar, dan sekumpulan indikator
pencapaian hasil belajar, serta hanya menunjukkan evidence yang paling
baik, tanpa memperhatikan bagaimana dan kapan evidence tersebut
diperoleh.
Contoh portofolio produk adalah
portofolio tampilan (show portfolio) dan portofolio dokumentasi (documentary
portfolio). Portofolio tampilan (show portfolio) merupakan
sekumpulan hasil karya siswa atau dokumen terseleksi yang dipersiapkan untuk
ditampilkan kepada umum. Portofolio dokumentasi (documentary portfolio)
menyediakan informasi baik proses maupun produk yang dihasilkan oleh siswa.
6.
Tahap-tahap Penilaian Portofolio
Menurut Anthoni J. Nitko (1996:281),
ada enam tahap untuk menggunakan sebuah system portofolio (six steps for
crafing a portfolio system). Tahap pertama akan merupakan dasar bagi penentuan
tahap selanjutnya. Oleh sebab itu, jawablah semua pertanyaan pada tahap pertama
sebelum lanjut pada tahap berikutnya. Tahap-tahap tersebut adalah sebagai
berikut:
- Mengidentifikasi tujuan dan fokus portofolio
·
Mengapa
portofolio itu akan dilakukan?
·
Tujuan
pembelajaran dan tujuan kurikulum (dalam hal ini kompetensi dasar) apa yang
akan dicapai?
·
Metoda
penilaian yang bagaimana yang tepat untuk menilai tujuan tersebut?
·
Apakah
portofolio akan difokuskan pada hasil pekerjaan yang baik, pertumbuhan dan
kemajuan belajar, atau keduanya?
·
Apakah
portofolio akan digunakan untuk formatif, sumatif, atau keduanya?
·
Siapa yang
akan dilibatkan dalam menentukan tujuan, fokus, dan pengaturan portofolio?
2. Mengidentifikasi isi materi umum
yang akan dinilai.
·
Mengidentifikasi
pengorganisasian portofolio. Siapa yang akan terlibat dalam portofolio
tersebut?
·
Menggunakan
portofolio dalam praktik.
·
Evaluasi
pelaksanaan portofolio.
·
Evaluasi
portofolio secara umum.
Contoh Instrumen Penilaian Portofolio
Contoh Format Penilaian produk
|
No
|
Aspek-aspek Penilaian
|
Indikator
|
Skor
|
Keterangan
|
|
1
|
Persiapan
|
I
|
||
|
II
|
||||
|
III
|
||||
|
2
|
Pembuatan
|
Umum
|
||
|
Modifikasi
|
||||
|
Khusus
|
||||
|
3
|
Komponen
Penilaian
|
Disain
|
||
|
Bahan
|
||||
|
Kreatifitas
|
||||
|
Orisinalitas
|
||||
|
Jumlah
Skor
|
||||
|
Nilai
|
||||
|
Jambi, September 2016
Guru,
……………………………..
|
||||
Kriteria Penilaian:
Jumlah Skor : 91 – 100 = Sangat
Memuaskan
81 – 90 = Memuaskan
71 – 80 = Baik
61 – 70 = Cukup
< 60 = Kurang
Contoh Format Penilaian Karya Tulis
|
No
|
Kompetensi
|
Indikator
|
Skor
|
Keterangan
|
|
1
|
Kualitas
Informasi
|
Akurat
|
||
|
Cermat
|
||||
|
Teliti
|
||||
|
Seksama
|
||||
|
2
|
Pengorgaanisasian
gagasan (masalah)
|
Tepat
|
||
|
Runtut
|
||||
|
3
|
Kebahasaan
|
Rapi
|
||
|
Menarik
|
||||
|
Jumlah
Skor
|
||||
|
Nilai
|
||||
|
Jambi, September 2016
Guru,
……………………………..
|
||||
Contoh Kisi-kisi Instrumen Deskripsi Diri
|
Unsur Penilaian
|
Bobot Butir
|
Butir
|
Kompetensi
|
|||
|
Ped
|
Pro
|
Kep
|
Sos
|
|||
|
Pengembangan kualitas pembelajaran
(A)
|
28
|
1. Usaha kreatif
|
||||
|
2. Dampak perubahan
|
||||||
|
3. Disiplin
|
||||||
|
4. Keteladanan
|
||||||
|
5. Keterbukaan terhadap kritik
|
||||||
|
Pengembangan keilmuan (B)
|
34
|
1. Publikasi karya ilmiah
|
||||
|
2. Makna dan kegunaan
|
||||||
|
3. Usaha inovatif
|
||||||
|
4. Konsistensi
|
||||||
|
5. Target kerja
|
||||||
|
Pengabdian kepada masyarakat (C)
|
16
|
1. Implementasi kegiatan pengabdian
|
||||
|
2. Perubahan
|
||||||
|
3. Dukungan masyarakat
|
||||||
|
4. Kemampuan komunikasi
|
||||||
|
5. Kemampuan kerjasama
|
||||||
|
Manajemen pengelolaan institusi
(D)
|
12
|
1. Implementasi kegiatan
|
||||
|
2. Dukungan institusi
|
||||||
|
3. Kendali diri
|
||||||
|
4. Tanggung jawab
|
||||||
|
5. Keteguhan pada prinsip
|
||||||
|
Peningkatan kualitas kegiatan
mahasiswa (E)
|
10
|
1. Peran
|
||||
|
2. Implementasi kegiatan
|
||||||
|
3. Interaksi
|
||||||
|
4. Manfaat kegiatan
|
||||||
Assalamualaikum. Apakah penilaian autentik lebih akurat dari penilaian penilaian yang lain pak?
BalasHapusasalamualaikum,..
BalasHapusBagaimana penilaian autentik yang menekankan pada proses belajar, aktivitas dan kreativitas peserta didik dalam memperoleh pengetahuan, keterampilan, sikap dan nilai??? Trimakasih