Rabu, 21 September 2016

TUGAS KURIKULUM DAN DESAIN PEMBELAJARAN



PENDAHULUAN
Latar Belakang 

Penilaian autentik memiliki relevansi terhadap pendekatan ilmiah dalam pembelajaran sesuai tuntutan Kurikulum 2013 yang mampu menggambarkan peningkatan hasil belajar peserta didik melalui 5 M. Mengamati, Menanya, Mengumpulkan Informasi, Mengasosiasikan,  dan Mengomunikasikan.   Penilaian autentik bertujuan untuk mengukur berbagai keterampilan dalam berbagai konteks yang mencerminkan situasi di dunia nyata, Penilaian autentik dalam implementasi kurikulum 2013 mengacu kepada penilaian kompetensi sikap melalui observasi, penilaian diri, penilaian “teman sejawat” oleh peserta didik dan jurnal, pengetahuan melalui tes tulis, tes lisan, dan penugasan, keterampilan melalui penilaian kinerja, yaitu penilaian yang menuntut peserta didik mendemonstrasikan suatu kompetensi tertentu dengan menggunakan tes praktik, projek,,  dan penilaian portofolio.
Implementasi Kurikulum 2013 sangat berimplikasi pada model penilaian pencapaian kompetensi peserta didik. Penilaian pencapaian kompetensi merupakan proses sistematis dalam mengumpulkan, menganalisis dan menginterpretasi informasi untuk menentukan sejauhmana peserta didik telah mencapai tujuan pembelajaran.
Sesuai dengan Peraturan Menteri Pendidikan dan Kebudayaan No. 66 Tahun 2013 tentang  Standar Penilaian Pendidikan yang disempurnakan dengan adanya lampiran III yang mengatur Pedoman Mata Pelajaran (PMP) telah menggambarkan bagaimana penilaian setiap mata pelajaran yang notabennya memiliki karakteristik masing-masing. Penilaian pencapaian kompetensi oleh pendidik dilakukan untuk memantau proses, kemajuan, perkembangan pencapaian kompetensi peserta didik sesuai dengan potensi yang dimiliki dan kemampuan yang diharapkan secara  berkesinambungan. Penilaian juga dapat memberikan umpan balik kepada pendidik agar dapat menyempurnakan perencanaan dan proses pembelajaran.
Penilaian oleh pendidik merupakan suatu proses yang dilakukan melalui langkah-langkah perencanaan, penyusunan alat penilaian, pengumpulan informasi melalui sejumlah bukti yang menunjukkan pencapaian kompetensi peserta didik, pengolahan dan pemanfaatan informasi tentang pencapaian kompetensi peserta didik. Penilaian tersebut dilakukan melalui berbagai teknik/cara, seperti penilaian unjuk kerja (performance), penilaian sikap, penilaian tertulis (paper and pencil test), penilaian projek, penilaian produk, penilaian melalui kumpulan hasil kerja/karya peserta didik (portfolio), dan penilaian diri.
Ciri penilaian autentik antara lain adalah: 1) Memandang penilaian dan pembelajaran secara terpadu.;2) Mencerminkan masalah dunia nyata bukan hanya dunia sekolah.; 3) Menggunakan berbagai cara dan kriteria; 4) Holistik (kompetensi utuh merefleksikan sikap,  keterampilan,  dan pengetahuan.
Penilaian pencapaian kompetensi baik formal maupun informal diadakan dalam suasana yang menyenangkan, sehingga memungkinkan peserta didik menunjukkan apa yang dipahami dan mampu dikerjakannya. Pencapaian kompetensi seorang peserta didik dalam periode waktu tertentu dibandingkan dengan hasil yang dimiliki peserta didik tersebut sebelumnya dan tidak dianjurkan untuk dibandingkan dengan peserta didik lainnya.  Dengan demikian peserta didik tidak merasa dihakimi oleh pendidik tetapi dibantu untuk mencapai kompetensi atau indikator yang diharapkan.


Rumusan Masalah
  1. Apakah penilaian autentik itu?
  2. Apa saja jenis-jenis penilaian autentik itu?
  3. Hal-hal apa sajakah yang berkaitan dengan penilaian kinerja itu?
  4. Hal-hal apa sajakah yang berkaitan dengan penilaian proses itu?
  5. Hal-hal apa sajakah yang berkaitan dengan penilaian portofolio itu?
  6. Bagaimakah bentuk instrumen dari penilaian autentik itu?

Penilaian otentik (Authentic Assessment) adalah pengukuran yang bermakna secara signifikan atas hasil belajar peserta didik untuk ranah sikap, keterampilan, dan pengetahuan. Istilah Assessment merupakan sinonim dari penilaian, pengukuran, pengujian, atau evaluasi.  Sedangkan istilah otentik merupakan sinonim dari  asli, nyata, valid, atau reliabel.
Secara konseptual penilaian otentik lebih bermakna secara signifikan  dibandingkan dengan  tes pilihan ganda terstandar sekali pun. Ketika menerapkan penilaian otentik untuk mengetahui hasil dan prestasi belajar peserta didik, pendidik menerapkan kriteria yang berkaitan dengan konstruksi pengetahuan, aktivitas mengamati dan mencoba, dan nilai prestasi luar pembelajaran.
Penilaian otentik memiliki relevansi kuat terhadap pendekatan ilmiah dalam pembelajaran sesuai dengan tuntutan Kurikulum 2013.  Penilaian tersebut mampu menggambarkan peningkatan hasil belajar peserta didik, baik dalam rangka mengobservasi, menalar, mencoba, membangun jejaring, dan lain-lain. Penilaian otentik cenderung fokus pada tugas-tugas kompleks atau kontekstual, memungkinkan peserta didik untuk menunjukkan kompetensi mereka dalam pengaturan yang lebih otentik.
Penilaian otentik merupakan suatu bentuk tugas yang menghendaki peserta didik untuk menunjukkan kinerja di dunia nyata secara bermakna, yang merupakan penerapan esensi pengetahuan dan keterampilan. Penilaian otentik juga menekankan kemampuan peserta didik untuk mendemonstrasikan pengetahuan yang dimiliki secara nyata dan bermakna. Kegiatan penilaian tidak sekedar menanyakan atau menyadap pengetahuan, melainkan kinerja secara nyata dari pengetahuan yang telah dikuasai sehingga penilaian otentik merupakan penilaian yang dilakukan secara komprehensif untuk menilai mulai dari masukan (input), proses,dan keluaran (output) pembelajaran.
Penilaian otentik bertujuan untuk mengukur berbagai keterampilan dalam berbagai konteks yang mencerminkan situasi di dunia nyata di mana keterampilan-keterampilan tersebut digunakan. Misalnya, penugasan kepada peserta didik untuk menulis topik-topik tertentu sebagaimana halnya di kehidupan nyata, dan berpartisipasi konkret dalam diskusi atau bedah buku, menulis untuk jurnal, surat, atau mengedit tulisan sampai siap cetak. Jadi, penilaian model ini menekankan pada pengukuran kinerja, doing something, melakukan sesuatu yang merupakan penerapan dari ilmu pengetahuan yang telah dikuasai secara teoretis.
Penilaian otentik lebih menuntut pembelajar mendemonstrasikan pengetahuan, keterampilan, dan strategi dengan mengkreasikan jawaban atau produk. Peserta didik tidak sekedar diminta merespon jawaban seperti dalam tes tradisional, melainkan dituntut untuk mampu mengkreasikan dan menghasilkan jawaban yang dilatarbelakangi oleh pengetahuan teoretis.
Penilaian otentik dalam implementasi kurikulum 2013 mengacu kepada standar penilaian yang terdiri dari:
1.        Penilaian kompetensi sikap melalui observasi, penilaian diri, penilaian “teman sejawat”(peer evaluation) oleh peserta didik dan jurnal
2.        Pengetahuan melalui tes tulis, tes, lisan, dan penugasan.
3.        Keterampilan melalui penilaian kinerja, yaitu penilaian yang menuntut peserta didik mendemonstrasikan suatu kompetensi tertentu dengan menggunakan tes praktik, projek, dan penilaian portofolio

JENIS-JENIS PENILAIAN AUTENTIK

Penilaian Kinerja
Penilaian autentik sebisa mungkin melibatkan parsisipasi peserta didik, khususnya dalam proses dan aspek-aspek yang akan dinilai. Guru dapat melakukannya dengan meminta para peserta didik menyebutkan unsur-unsur proyek/tugas yang akan mereka gunakan untuk menentukan kriteria penyelesaiannya. Cara merekam hasil penilaian berbasis kinerja: Daftar cek (checklist), Catatan anekdot/narasi (anecdotal/narative records), Skala penilaian(rating scale), Memori atau ingatan (memory approach).

Penilaian Proyek
Penilaian proyek (project assessment) merupakan kegiatan penilaian terhadap tugas yang harus diselesaikan oleh peserta didik menurut periode/waktutertentu. Penyelesaian tugas dimaksud berupa investigasiyang dilakukan oleh peserta didik, mulai dari perencanaan, pengumpulan data, pengorganisasian, pengolahan, analisis, dan penyajian data.
Tiga hal yang perlu diperhatikan guru dalam penilaian proyek:1) Keterampilan peserta didik dalam memilih topik, mencari dan mengumpulkan data, mengolah dan menganalisis, memberi makna atas informasi yang diperoleh, dan menulis laporan; 2) Kesesuaian atau relevansimateri pembelajaran dengan pengembangan sikap, keterampilan, dan pengetahuan yang dibutuhkan oleh peserta didik; 3) Keaslian sebuah proyek pembelajaran yang dikerjakan atau dihasilkan oleh peserta didik.
Penilaian proyek (project assessment) merupakan kegiatan penilaian terhadap tugas yang harus diselesaikan oleh peserta didik menurut periode/waktu tertentu. Penyelesaian tugas dimaksud berupa investigasi yang  dilakukan oleh peserta didik, mulai dari perencanaan, pengumpulan data, pengorganisasian, pengolahan, analisis,dan penyajian data.

Portofolio
Penilaian portofolio merupakan penilaian atas kumpulan artefak yang menunjukkan kemajuan dan dihargai sebagai hasil kerja dari dunia nyata. Penilaian portofolio bisa berangkat dari hasil kerja peserta didik secara perorangan atau diproduksi secara berkelompok, memerlukan refleksi peserta didik, dan dievaluasi berdasarkan beberapa dimensi.
Penilaian portofolio dilakukan dengan menggunakan langkah-langkah seperti berikut ini.1)  Guru menjelaskan secara ringkas esensi penilaian portofolio; 2) Guru atau guru bersama peserta didik menentukan jenisportofolioyang akandibuat; 3) Peserta didik, baik sendiri maupun kelompok, mandiri atau di bawah bimbingan guru menyusun portofolio pembelajaran;4) Guru menghimpun dan menyimpan portofolio peserta didik pada tempat yang sesuai, disertai catatan tanggal pengumpulannya; 5) Guru menilai portofolio peserta didik dengan kriteria tertentu; 6) Jika memungkinkan, guru bersama peserta didik membahas bersama dokumen portofolio yang dihasilkan; 7) Guru memberi umpan balik kepada peserta didik atas hasil penilaian portofolio.

Penilaian Tertulis
Tes tertulis berbentuk uraian atau esai menuntut peserta didik mampu mengingat, memahami, mengorganisasikan, menerapkan, menganalisis, mensintesis, mengevaluasi, dan sebagainya atas materi yang sudah dipelajari. Tes tertulis berbentuk uraian sebisa mungkin bersifat komprehensif, sehingga mampu menggambarkan ranah sikap, pengetahuan, dan keterampilan peserta didik.
Penilaian tertulis adalah penilaian yang menuntut peserta didik memberi jawaban secara tertulis berupa pilihan dan/atau isian. Penilaian tertulis yang dikembangkan dalam penilaian otentik lebih dutekankan pada penilaian tertulis yang jawabannya berupa isian dapat berbentuk isian singkatdan/atau uraian.
Soal dengan mensuplay jawaban terdiri dari Isian atau melengkapi, Jawaban singkat atau pendek, dan Soal uraian. Teknik penilaian tes tertulis uraian adalah alat penilaian yang menuntut peserta didik untuk mengingat, memahami, mengorganisasikan gagasan yang sudah dipelajari dengan cara mengemukakan atau mengekspresikan gagasan tersbut dalam bentuk uraian tulisan. Teknik ini dapat digunakan untuk menilai berbagai jenis kemampuan, yaitu mengemukakan pendapat, berpikir logis, kritis, sistematis dan menyimpulkan.
Penyusunan instrumen penilaian tertulis perlu mempertimbangkan Substansi, misalnya kesesuaian butir soal dengan indikator soal dan indikator pembelajaran; Konstruk, misalnya rumusan soal atau pertanyaan harus jelas dan tegas;Bahasa, misalnya rumusan soal tidaak menggunakan kata/kalimat yang menimbulkan penafsiran ganda.
Soal bentuk uraian non-objektif tidak dapat diskor  secara objektif, karena jawaban yang dinilai dapat berupa opini atau pendapat peserta didik sendiri, bukan berupa konsep kunci yang sudah pasti. Pedoman penilaiannya berupa kriteria-kriteria jawaban. Setiap kriteria jawaban diberi rentang skor tertentu, misalnya 0 – 5. Tidak ada jawaban untuk suatu kriteria diberi skor 0. Besar- kecilnya  skor yang diperoleh peserta didik untuk suatu kriteria ditentukan berdasarkan tingkat kesempurnaan jawaban.

Penilaian Lisan
Tes lisan yakni tes yang pelaksanaannya dilakukan denganmengadakan tanya jawab secara langsung antara pendidik dan pesertadidik  Penilaian lisan sering digunakan oleh pendidik di kelas untuk menilai peserta didik dengan cara memberikan beberapa pertanyaan secara lisan dan dijawab oleh peserta didik secara lisan juga.
Pertanyaan lisan merupakan variasi dari tes uraian. Penilaian ini sering digunakan pada ujian akhir mata pelajaran agama dan sosial. Kelebihan penilaian ini antara lain: memberikan kesempatan kepada pendidik dan peserta didik untuk menentukan sampai seberapa baik pendidik atau peserta didik dapat menyimpulkan atau mengekspresikan dirinya, peserta didik tidak terlalu tergantung  untuk memilih jawaban tetapi memberikan jawaban yang benar, peserta didik dapat memberikan respon dengan bebas. Penilaian lisan bertujuan untuk mengungkapkan sebanyak mungkin pegetahuan dan pemahaman peserta didik tentang materi yang diuji.  Sedangkan kelemahan tes lisan antara lain subjektivitas pendidik sering mencemari hasil tes dan waktu pelaksanaan yang diperlukan relatif cukup lama.
Penilaian lisan dapat dilakukan dengan dengan teknik sebagai berikut: 1)  Sebelum dilaksanakan tes lisan, pendidik sudah melakukan inventarisasi berbagai jenis soal yang akan diajukan kepada peserta didik, sehingga dapat diharapkan memiliki validitas yang tinggi dan baik dari segi isi maupun konstruksinya; 2) Siapkan pedoman dan ancar-ancar jawaban bentuknya, agar mempunyai kriteria pasti dalam penskoran dan  tidak terkecok dengan jawaban yang panjang lebar dan berbelit-belit; 3) Skor ditentukan saat masing-masing peserta didik selesai dites, agar pemberian skor atau nilai yang diberikan tidak dipengaruhi oleh jawaban yang diberikan oleh peserta didik yang lain; 4) Tes yang diberikan hendaknya tidak menyimpang atau berubah arah dari evaluasi menjadi diskusi; 5) Untuk menegakan obyektivitas dan prinsip keadilan, Pendidik tidak diperkenankan  memberikan angin segar atau memancing dengan kata-kata atau kode tertentu yang bersifat menolong peserta didik dengan aalasan kasihan atau rasa simpati; 6) Tes lisan harus berlangsung secara wajar. Artinya jangan sampai menimbulkan rasa takut, gugup atau panik di kalangan peserta didik;7)  Pendidik mempunyai pedoman waktu bagi peserta didik dalam menjawab soal-soal atau pertanyaan pada tes lisan;8)  Pertanyaan yang diajukan hendaknya bervariasi, dalam arti bahwa sekalipun inti persoalan yang ditanyakan sama, namun cara pengajuan pertanyaannya dibuat berlainana atau beragam; 9)  Pelaksanaan tes dilakukan secara individual (satu demi satu), agar tidak mempengaruhi mental peserta didik yang lainnya.

Penilaian Praktik
Penilaian Praktek dilakukan dengan cara mengamati kegiatan peserta didik dalam melakukan aktivitas pembelajaran. Penilaian ini cocok digunakan untuk menilai ketercapaian kompetensi atau indikator keberhasilan yang menurut peserta didik menunjukkan unjuk kerja, misalnya bermain peran, memainkan alat musik, bernyanyi, membaca puisi, menggunkan peralatan laboratorium, mengoperasikan komputer.
Penilaian praktik perlu mempertimbangkan: langkah-langkah kinerja yang diharapkan dilakukan peserta didik untuk menunjukkan kinerja dari suatu kompetensi, kelengkapan dan ketepatan aspek yang akan dinilai dalam kinerja tersebut, kemampuan khusus yang diperlukan untuk menyelesaikan tugas, upayakan kemampuan yang akan dinilai tidak terlalu banyak, sehingga semua dapat diamati, dan kemampuan yang akan dinilai diurutkan berdasarkan urutan yang akan diamati.

Teknik Penilaian Praktik dibagi dua macam, yaitu daftar cek dan skala rentang. Daftar Cek Pada penilaian praktek  yang menggunakan daftar cek (ya – tidak), peserta didik mendapat nilai apabila kriteria penguasaaan kompetensi tertentu dapat diamati oleh penilai. Kelemahan teknik penilaian ini ialah penilai hanya mempunyai dua pilihandan tidak menpunyai nilai tengah. Misalnya benar-salah, dapat diamati-tidak dapat diamati. Sedangkan Skala Rentang pada penilaian unjuk kerja memungkinkan penilai memberikan skor tengah terhadap penguasaan kompetensi tertentu. Karena pemberian nilai secara kontinuum di mana pilihan kategori nilai lebih dari dua, misalnya sangat kompeten – kompeten – tidak kompeten.- sangat tidak kompeten.  Penilaian skala rentang sebaiknya dilakukan oleh lebih dari satu orang agar faktor sujektivitas dapat diperkecil dan hasil penilaian lebih akurat.
1.        Keunggulan Kinerja
Penilaian kinerja dapat menilai proses dan produk pembelajaran. Pada pembelajaran sains, penilaian kinerja lebih menekankan pada proses apabila dibandingkan dengan hasil. Penilaian proses secara langsung tentu lebih baik karena dapat memantau siswa secara otentik. Namun seringkali penilaian proses secara langsung tersebut tidak dimungkinkan karena pengerjaan tugas siswa memerlukan waktu lama sehingga siswa harus mengerjakannya di luar jam pelajaran sekolah. Untuk mengatasi hal tersebut, penilaian terhadap proses dan usaha siswa dapat dilakukan terhadap produk. Melalui produk yang dihasilkan dapat dilihat kemampuan siswa dalam melakukan tahapan-tahapan penyelesaian. Hal ini menyebabkan penilaian kinerja memiliki keunggulan untuk pembelajaran sains jika dibandingkan dengan tes tradisional yang berorientasi pada pencapaian hasil belajar.
Penilaian kinerja memiliki beberapa kekuatan yang apabila dibandingkan dengan penilaian tradisional, yaitu:
  1. Penilaian kinerja dapat mengukur kemampuan yang tidak dapat diukur menggunakan alat penilaian lainnya.
  2. Penggunaan penilaian kinerja sesuai dengan teori belajar modern.
  3. Penggunaan penilaian kinerja memungkinkan hasil dalam pengajaran yang lebih baik.
  4. Dengan penilaian kinerja dapat mencapai pembelajaran bermakna dan membantu memotivasi siswa.
  5. Penilaian kinerja dapat menilai proses dan produk pembelajaran.
  6. Penggunaan penilaian kinerja memperluas pendekatan untuk penilaian.
  7. Kelemahan penilaian kinerja
  8. Sukar untuk melakukan penyekoran penilaian kinerja dengan cara yang reliabel.
  9. Penilaian kinerja menyediakan sampel yang terbatas dari domain isi, dan sukar untuk membuat generalisasi tentang keterampilan dan pengetahuan proses siswa.
  10. Penilaian kinerja cukup memakan waktu dan sangat kompleks.
  11. Pada kenyataannya ada hal-hal yang dapat membatasi penggunaan penilaian kinerja, seperti persyaratan dan material peralatan yang dibutuhkan.
  12. Penyusunan Perangkat Penilaian
Perangkat penilaian kinerja dapat dikembangkan dengan melakukan uji coba dalam pembelajaran. guru dapat menguji dan mengembangkan task-task (tugas) dan rubrik penilaian kinerj agar cocok dengan kondisi di kelasnya serta sesuai dengan kemampuan siswa. Hasil uji coba dapat dijadikan sebagai dasar perbaikan perangkat penilaian kinerja agar menjadi lebih feasible (dapat dikerjakan), lengkap dan aman dilakukan.
Metode-metode yang dapat digunakan untuk penilaian kinerja antara lain: observasi, interviu, portofolio, penilaian essay, ujian praktik, paper, penilaian proyek, kuisioner, daftar cek (check list), penilaian oleh teman (peer rating), penilaian diskusi, dan penilaian jurnal kerja ilmiah siswa. Langkah-langkah yang perlu ditempuh ketika menyusun penilaian kinerja antara lain:
  1. Menentukan indikator kinerja yang akan dicapai siswa.
  2. Memilih fokus asesmen (menilai proses/prosedur, produk, atau keduanya).
  3. Memilih tingkat realism yang sesuai (menentukan seberapa besar tingkat keterkaitannya dengan kehidupan nyata).
  4. Memilih metode observasi, pencatatan, dan penskoran.
  5. Menguji coba task dan rubrik berdasarkan hasil uji coba untuk digunakan dalam pembelajaran berikutnya.
Pada praktiknya bentuk penilaian kinerja yang paling sering dilakukan adalah dengan menggunakan daftar cek (ya – tidak) dan skala penilaian.
  1. Daftar Cek
Pada penilaian kinerja menggunakan daftar cek (ya – tidak) peserta didik mendapat  kriteria penguasaan kemampuan tertentu dapat diamati oleh guru. Jika tidak dapat diamati, siswa tidak memperoleh nilai. Kelemahan cara ini adalah penilai hanya mempunyai dua pilihan mutlak, misalnya benar-salah, atau dapat diamati-tidak dapat diamati. Dengan demikian tidak terdapat nilai (kemampuan) tengah.
  1. Skala Penilaian
Penilaian kinerja menggunakan skala rentang memungkinkan guru untuk memberi nilai tengah terhadap penguasaan kompetensi tertentu karena pemberian nilai ini dengan kategori nilai lebih dari dua. Skala rentang tersebut misalnya, sangat baik – baik – cukup – kurang. Penilaian sebaiknya dilakukan oleh lebih dari satu penilai agar faktor subyektivitas dapat diperkecil dan hasil penilaian lebih akurat. Penilaian dengan skala penilaian yang baik pada dasarnya masih harus dilengkapi dengan rubrik.

PROSES dan PRODUK

Penilaian proses merupakan penilaian pembelajaran yang menekankan pada proses belajar, aktivitas dan kreativitas peserta didik dalam memperoleh pengetahuan, keterampilan, sikap dan nilai serta menerapkannya dalam kehidupan sehari-hari. Dalam pengertian terebut termasuk diantaranya keterlibatan fisik, mental dan sosial peserta didik dalam proses pembelajaran untuk mencapai tujuan. Indikator pendekatan penilaian proses antara lain; kemampuan mengidentifikasi, mengklasifikasikan, menghitung, mengukur, mengamati, mencari hubungan, menafsirkan, menyimpulkan, mengkomunikasikan, menerapkan, mengekspresikan diri dalam suatu kegiatan untuk menghasilkan suatu karya.
Penilaian produk dapat juga dikatakan penilaian terhadap proses pembuatan dan kualitas suatu produk. Atau dengan kata lain asesmen produk merupakan ragam penilaian untuk menilai kemampuan siswa dalam membuat produk tertentu, seperti : teknologi tepat guna, karya seni, keramik, lukisan dan lain-lain. Asesmen produk dapat digunakan untuk menilai proses maupun hasil belajar siswa.
Pengembangan produk meliputi tiga tahap, yaitu tahap persiapan, tahap pembuatan produk dan tahap penilaian produk.
Dengan demikian, penetapan kriteria harus disesuaikan degnan perkembangan usia anak dan kriteria tidak bersifat kaku. Kenyataan di lapangan menunjukan bahwa penilaian proses dan produk dilakukan guru sebatas pengetahuan yang dimiliki guru tentang seni lukis, karena latar belakang pendidikan bukan dari bidang seni rupa. Sebagai guru kelas dan tidak pernah mendapat pelatihan tentang penilaian seni lukis sehingga guru mengalmi kesulitan dalam menilai proes dan produk karya seni lukis. Hal ini disebabkan karena tidak ada kriteria yang dapat dijadikan sebagai pedoman dalam menilai proses dan produk karya seni lukis peserta didik tersebut. Pengemangan produk meliputi tiga tahap yaitu:
1.  Tahap persiapan, meliputi penilaian kemampuan peserta didik dan merencanakan, menggali, dan mengembangkan gagasan dan mendesain produk
2.    Tahap pembuatan produk (proses) meliputi kemampuan peserta didi dalam menyeleksi dan menggunakan bahan, alat dan teknik.
3.   Penilaian produk (appraisal) meliputu; penilaian produk yang dihasilkan peserta didik sesuai dengan kriteria yang ditentukan.
Penilaian produk biasanya menggunakan cara holistik atau analitik:
1.       Cara analitik, yaitu berdasarkan aspek-aspek produk biasa yang dilakukan terhadap semua kriteria yang dapat pada semua tahap proses pengembangan
2.    Cara holistik, yaitu berdasarkan kesan keseluruhan dari produk, biasanya dilakukan pada tahap appraisal.

PORTOFOLIO
1.        Pengertian Portofolio
Arti asli portofolio adalah a hinged cover or flexible case for carrying loose papers, pictures, or phamplets (semacam map, kotak, atau tas yang fleksibel untuk dipakai membawa surat-surat [dokumen-dokumen] lepas, gambar-gambar, atau pamfle-pamfet lepas). Jadi, portofolio berupa suatu koleksi hasil kerja seseorang yang berupa kumpulan dokumen secara lepas. Dengan melihat koleksi itu, seseorang dapat menelusuri riwayat perkembangan prestasi atau apa pun yang telah dicapainya (Soewandi, 2005).
Di dunia perusahaan, portofolio diberi makna kumpulan dokumen yang dimiliki perusahaan dan dipergunakan untuk menilai keberhasilan proses pencapaian tujuan suatu program atau rencana produksi (Surapranata dan Hatta, 2004: 26). Di dunia fotografer portofolio juga diberi makna kumpulan dokumen yang akan dipakai untuk memperlihatkan prospektif pekerjaannya kepada pelanggan dengan menunjukkan koleksi pekerjaan yang dimilikinya (Surapranata dan Hatta, 2004: 30). Di dunia kesehatan, portofolio berupa dokumen yang digunakan untuk memantau perkembangan kesehatan seseorang. Di dunia pendidikan, secara umum portofolio berarti juga kumpulan evidence (dokumen, bukti) yang berisi informasi tentang kemampuan dan perkembangan peserta didik dari waktu ke waktu (Surapranata dan Hatta, 2004: 30).
Pengertian portofolio seperti itu diadopsi ke dalam sistem pendidikan, dan secara khusus diadopsi menjadi salah satu alat penilaian, khususnya untuk menilai: (a) proses belajar, (b) hasil belajar, atau (c) proses dan hasil belajar peserta didik (Cole, Ryan, dan Kick, 1995 dalam Surapranata dan Hatta, 2004: 46; Depdiknas, 2004: 9). Akan tetapi yang perlu dipahami juga bahwa penilaian pembelajaran dengan portofolio tidak boleh meniadakan penilaian dengan cara-cara lain, misalnya, dengan tes, perbuatan, atau yang lain.
Selain itu, portofolio dapat digunakan untuk melihat perkembangan peserta didik dari waktu ke waktu berdasarkan kumpulan hasil karya sebagai bukti dari suatu kegiatan. Portofolio juga dapat dipandang sebagai suatu proses social pedagogis, yaitu sebagai collection of learning experiences yang terdapat di dalam pikiran peserta didik, baik yang berwujud pengetahuan (cognitive), keterampilan (psycomotor), maupun sikap dan nilai (affective). Artinya, portofolio bukan hanya berupa benda nyata, melainkan mencakup segala pengalaman bathiniah yang terjadi pada diri siswa (Arifin, 2010:4).
Menurut para ahli, portofolio memiliki beberapa pengertian. Ada yang memandang sebagai benda, dan ada pula yang memandang sebagai pendekatan. Portofolio sebagai suatu wujud benda fisik, berarti bahwa portofolio itu merupakan suatu kumpulan dokumentasi atau hasil pekerjaan seseorang (peserta didik) yang disimpan dalam suatu bundel. Misalnya, bundelan hasil kerja siswa mulai dari tes awal, tugas-tugas, catatan anekdot, piagam penghargaan, keterangan melaksanakan tugas terstruktur, sampai kepada tes akhir. Portofolio ini merupakan kumpulan karya terpilih dari seorang siswa atau sekelompok siswa.
Portofolio dipandang sebagai suatu pendekatan berti bahwa porotofolio adalah suatu pendekatan penilaian yang bertujuan mengukur sejauhmana kemampuan peserta didik dalam mengkonstruksi dan merefleksi suatu pekerjaan atau tugas atau karya melalui pengumpulan (collection) bahan-bahan yang relevan dengan tujuan dan keinginan yang dikonstruksi oleh peserta didik, sehingga hasil konstruksi tersebut dapat dinilai dan dikomentari oleh guru dalam periode tertentu.

2.        Kelebihan dan Kelemahan Portofolio
Kelebihan pendekatan portofolio adalah memberikan kesempatan kepada peserta didik untuk lebih banyak terlibat dan siswa sendiri dapat dengan mudah mengontrol sejauhmana perkembangan yang telah diperolehnya. Sehingga peserta didik mampu melakukan self-assessment. Keterampilan menemukan kelebihan dan kekurangannya sendiri, serta kemampuan untuk menggunakan kelebihan tersebut dalam mengatasi kelemahannya merupakan modal dasar penting dalam proses pembelajaran.
Miller (2009:290) secara rinci menyebutkan ada delapan kelebihan portofolio, yaitu:
  1. Karena portofolio terdiri dari produk pembelajaran di kelas, mereka dapat diinstruksikan dengan pembelajaran.
  2. Portofolio memberikan siswa kesempatan untuk memperlihatkan apa yang mereka bisa lakukan.
  3. Portofolio dapat mendorong siswa menjadi siswa yang reflektif dan mengembangkan kemampuan dalam menilai kelebihan dan kekurangan kerja mereka.
  4. Portofolio dapat membantu siswa bertanggung jawab untuk menetapkan tujuan dan mengevaluasi kemajuan.
  5. Portofolio memberikan kesempatan kepada guru dan siswa untuk berkolaborasi dan merefleksikan kemajuan siswa.
  6. Portofolio dapat menjadi cara efektif untuk berkomunikasi dengan orang tua dengan memperlihatkan contoh nyata dari pekerjaan siswa dan memperlihatkan kemajuan siswa.
  7. Portofolio dapat menyediakan sebuah mekanisme untuk membahas tentang pembelajaran yang bersifat student-centered dan student-directed.
  8. Portofolio dapat memberikan contoh konkrit kepada orang tua tentang perkembangan siswa dari waktu ke waktu sekaligus keterampilan siswa saat ini.
Selain mempunyai kelebihan, portofoilio juga mempunyai kelemahan. Sumarna n Muhammad Hatta (2004: 73–74, 90–96), menyebutkan beberapa kelemahan, antara lain, sebagai berikut.
  1. Di beberapa negara banyak guru mengalami kesulitan karena adanya kebiasaan guru yang memberikan tes dalam penilaian, dan kebiasaan ini mendarah daging. (Nampaknya keadaan ini juga berlaku bagi sebagian besar guru-guru di Indonesia. Tambahan lagi, kiranya masih juga diragukan apakah benar-benar mereka memahami hakikat tes, cara menyusun tes yang benar, dan cara menilai hasil tes)
  2. Guru memerlukan waktu ekstra untuk merencanakan dan melaksanakan penilaian dengan portofolio.
  3. Penilaian dengan portofolio kurang reliabel dibandingkan dengan penilaian-penilaian yang menggunakan ulangan harian, ulangan umum maupun ujian nasional yang menggunakan tes; apalagi penilaian sendiri oleh siswa (self-assessment) seperti yang dianjurkan dalam portofolio.
  4. Guru memiliki kecenderungan untuk memperhatikan hanya pencapaian akhir. Jika hal ini terjadi, berarti penilaian proses tidak mendapatkan perhatian sewajarnya.
  5. Guru dan peserta didik biasanya terjebak dalam suasana hubungan top-down: guru tahu segalanya dan peserta didik perlu diberi tahu. Jika demikian, inisiatif dan kreativitas peserta didik tidak berkembang, padahal penilaian dengan portofolio menghendaki adanya kedua hal itu.
  6. Ada unsur skeptis, khususnya orang tua, karena selama ini keberhasilan anaknya hanya didasarkan pada angka hasil tes akhir, peringkat, dan hal-hal yang bersifat kuantitatif. Padahal penilaian dengan portofolio menghendaki sebaliknya, yaitu penilaian bukan berupa angka. Bagi guru, penilaian bukan berupa angka bukanlah pekerjaan mudah.
  7. Penilaian dengan portofolio memerlukan tempat penyimpanan evidence (dokumen) yang memadai, apalagi jika jumlah peserta didik cukup besar.
Selain itu, Depdiknas (2004: 6) mengingatkan adanya dua kelemahan penggunaan portofolio sebagai penilaian.
  1. Penggunaan portofolio tergantung pada kemampuan siswa dalam menyampaikan uraiannya secara tertulis. Selama siswa belum lancar berbahasa tulis, penggunaan portofolio merupakan beban tambahan yang memberatkan.
  2. Bagi guru penggunaan portofolio sebagai alat penilaian memerlukan banyak waktu untuk melakukan penskoran, apalagi kalau kelasnya besar.
Oleh karena itu, Depdiknas (2004: 6) memberikan saran: “… portofolio yang ditugaskan  perlu disesuaikan dengan kemampuan siswa berbahasa tulis Indonesia dan waktu yang tersedia bagi guru untuk membacanya”.
3.     Tujuan dan Fungsi Penilaian Portofolio
Penilaian portofolio bertujuan sebagai alat formatif dan sumatif. Portofolio sebagai alat formatif digunakan untuk memantau kemajuan peserta didik dari hari ke hari dan untuk mendorong peserta didik dalam merefleksi pembelajaran mereka sendiri. Penilaian portofolio ditujukan juga untuk penilaian sumatif pada akhir semester atau akhir tahun pelajaran. Hasil penilaian portofolio sebagai alat sumatif ini dapat digunakan untuk mengisi angka rapor peserta didik, yang menunjukkan prestasi peserta didik dalam mata pelajaran tertentu.
Di samping itu, tujuan penilaian portofolio adalah untuk memberikan informasi kepada ang peserta didik secara lengkap dengan dukungan data dan dokumen yang akurat. Fakta yang paling penting dalam portofolio adalah digunakannya penilaian tertulis (paper and pencil assessment), project, produck, dan catatan kemampuan (records of performance). Supranata dan Hatta (dalam Arifin, 2010:7) mengemukakan bahwa penilaian portofolio dapat digunakan untuk mencapai beberapa tujuan yaitu:
  1. Menghargai perkembangan yang dialami peserta didik.
  2. Mendokumentasikan proses pembelajaran yang berlangsung.
  3. Memberi perhatian pada prestasi kerja peserta didik yang terbaik.
  4. Merefleksikan kesanggupan mengambil resiko dan melakukan eksperimentasi.
  5. Meningkatkan efektifitas proses pengajaran.
  6. Bertukar informasi dengan orang tua peserta didik dan guru lain.
  7. Membina dan mempercepat pertumbuhan konsep diri positif pada peserta didik.
  8. Meningkatkan kemampuan melakukan refleksi diri.
  9. Membantu peserta didik dalam merumuskan tujuan.
Adapun fungsi penilaian portofolio adalah sebagai berikut:
  1. Portofolio sebagai sumber informasi bagi guru dan orang tua untuk mengetahui pertumbuhan dan perkembangan kemampuan peserta didik, tanggung jawab dalam belajar, perluasan dimensi belajar, dan pembaharuan proses pembelajaran.
  2. Portofolio sebagai alat pengajaran merupakan komponen kurikulum, karena portofolio mengharuskan peserta didik untuk mengkoleksi dan menunjukkan hasil kerja mereka.
  3. Portofolio sebagai alat penilaian otentik (authentic assessment).
  4. Portofolio sebagai sumber informasi bagi siswa untuk melakukan self-assessment.
  5. Kegunaan Penilaian Portofolio
Depdiknas (2003:123) mengemukakan bahwa pendekatan penilaian portofolio dapat digunakan untuk:
  1. Memperlihatkan perkembangan pemikiran atau pemahaman siswa pada periode waktu tertentu.
  2. Menunjukkan suatu pemahaman dari beberapa konsep, topik, dan isu yang diberikan.
  3. Mendemonstrasikan perbedaan bakat.
  4. Mendemonstrasikan kemampuan untuk memproduksi atau mengkreasi suatu pekerjaan barus secara orisinal.
  5. Mendokumentasikan kegiatan selama periode waktu tertentu.
  6. Mendokumentasikan kemampuan menampilkan suatu karya seni.
  7. Mendokumentasikan kemampuan mengintegrasikan teori dan praktek.
  8. Merefleksikan nilai-nilai individu atau pandangan dunia secara lebih luas.
4.                              Prinsip-prinsip Penilaian Portofolio
Dalam penilaian portofolio harus terjadi interaksi multi arah, yaitu dari guru ke siswa, dari siswa ke guru, dan dari siswa ke siswa. Depdiknas (2003:124) mengemukakan bahwa “Pelaksanaan penilaian portofolio hendaknya memperhatikan prinsip-prinsip diantaranya mutual trust, confidentiality, joint ownership, satisfaction, and relevance”.
  1. Mutual trust (saling mempercayai), artinya bahwa jangan ada saling mencurigai antara guru dan siswa maupun siswa dengan siswa.
  2. Confidentiality (kerahasiaan bersama), artinya bahwa semua hasil pekerjaan peserta didik dan dokumen yang ada, baik perorangan maupun kelompok, harus dijaga kerahasiaannya, tidak boleh diberikan atau diperlihatkan kepada siapapun sebelum diadakan pameran.
  3. Joint ownership (milik bersama), artinya bahwa semua hasil pekerjaan peserta didik dan dokumen yang ada harus menjadi milik bersama antara guru dan peserta didik, karena itu harus dijaga bersama, baik penyimpanannya maupun penempatannya.
  4. Satisfaction (kepuasan), artinya bahwa semua dokumen dalam rangka pencapaian standar kompetensi, kompetensi dasar dan indikator harus dapat memuaskan semua pihak, baik guru maupun siswa, karena dokumen tersebut merupakan bukti karya terbaik peserta didik sebagai hasil pembinaan guru.
  5. Relevance (kesesuaian), artinya bahwa dokumen yang ada harus sesuai dengan kompetensi yang diharapkan.
Di samping prinsip-prinsip yang tersebut di atas, Surapranata & Hatta (2004:79) menambahkan tiga prinsip, yaitu “Penciptaan budaya mengajar, refleksi bersama, serta proses dan hasil”.
  1. Penciptaan budaya mengajar.
Penilaian portofolio hanya dapat dilakukan jika pengajarannya pun menggunakan pendekatan portofolio. Penilaian portofolio akan efektif jika pengajarannya menuntut siswa untuk menunjukkan kemampuan yang nyata dan menggambarkan pengembangan aspek pengetahuan, keterampilan, sikap dan nilai pada taraf yang lebih tinggi.

1.         Refleksi bersama
Penilaian portofolio memberikan kesempatan untuk melakukan refleksi bersama-sama, di mana siswa dapat merefleksikan tentang proses berpikir siswa sendiri, kemampuan pemahaman siswa sendiri, pemecahan masalah, dan pengambilan keputusan.
2.         Proses dan hasil
Penilaian portofolio harus menilai proses belajar siswa, misalnya: catatan perilaku harian, sikap belajar, antusias tidaknya dalam mengikuti pelajaran, dan sebagainya. Penilaian portofolio juga harus menilai hasil akhir suatu tugas yang diberikan oleh guru.

5.                               Jenis Penilaian Portofolio
Apabila dilihat dari jumlah siswa, maka portofolio dapat dibagi menjadi dua jenis, yaitu portofolio perorangan dan portofolio kelompok. Menurut Cole, Ryan, & Kick (dalam Arifin, 2010:9) portofolio dapat dibagi menjadi dua jenis, yaitu portofolio proses dan portofolio produk.
  1.   Portofolio proses
Portofolio proses menunjukkan tahapan belajar dan menyajikan catatan perkembangan siswa dari waktu ke waktu. Portofolio proses menunjukkan kegiatan pembelajaran untuk mencapai standar kompetensi, kompetensi dasar, dan sekumpulan indikator yang dituntut oleh kurikulum, serta menunjukkan semua hasil dari awal sampai dengan akhir dalam kurun waktu tertentu.
Salah satu bentuk portofolio proses adalah portofolio kerja (working portfolio), yaitu bentuk yang digunakan untuk memantau kemajuan dan menilai siswa dalam mengelola kegiatan belajar siswa sendiri. Siswa mengumpulkan semua hasil kerja termasuk coretan-coretan, buram, catatan, kumpulan untuk rangsangan, buram setengah jadi, dan pekerjaan yang sudah selesai.
            2.      Portofolio produk
Portofolio produk yaitu bentuk penialaian portofolio yang hanya menekankan pada penguasaan materi adri tugas yang dituntut dalam standar kompetensi, kompetensi dasar, dan sekumpulan indikator pencapaian hasil belajar, serta hanya menunjukkan evidence yang paling baik, tanpa memperhatikan bagaimana dan kapan evidence tersebut diperoleh.
Contoh portofolio produk adalah portofolio tampilan (show portfolio) dan portofolio dokumentasi (documentary portfolio). Portofolio tampilan (show portfolio) merupakan sekumpulan hasil karya siswa atau dokumen terseleksi yang dipersiapkan untuk ditampilkan kepada umum. Portofolio dokumentasi (documentary portfolio) menyediakan informasi baik proses maupun produk yang dihasilkan oleh siswa.

6.                               Tahap-tahap Penilaian Portofolio
Menurut Anthoni J. Nitko (1996:281), ada enam tahap untuk menggunakan sebuah system portofolio (six steps for crafing a portfolio system). Tahap pertama akan merupakan dasar bagi penentuan tahap selanjutnya. Oleh sebab itu, jawablah semua pertanyaan pada tahap pertama sebelum lanjut pada tahap berikutnya. Tahap-tahap tersebut adalah sebagai berikut:
  1.   Mengidentifikasi tujuan dan fokus portofolio
·            Mengapa portofolio itu akan dilakukan?
·            Tujuan pembelajaran dan tujuan kurikulum (dalam hal ini kompetensi dasar) apa yang akan dicapai?
·            Metoda penilaian yang bagaimana yang tepat untuk menilai tujuan tersebut?
·            Apakah portofolio akan difokuskan pada hasil pekerjaan yang baik, pertumbuhan dan kemajuan belajar, atau keduanya?
·            Apakah portofolio akan digunakan untuk formatif, sumatif, atau keduanya?
·            Siapa yang akan dilibatkan dalam menentukan tujuan, fokus, dan pengaturan portofolio?

            2.      Mengidentifikasi isi materi umum yang akan dinilai.
·            Mengidentifikasi pengorganisasian portofolio. Siapa yang akan terlibat dalam portofolio tersebut?
·            Menggunakan portofolio dalam praktik.
·            Evaluasi pelaksanaan portofolio.
·            Evaluasi portofolio secara umum.










Contoh Instrumen Penilaian Portofolio
Contoh Format Penilaian produk
No
Aspek-aspek Penilaian
Indikator
Skor
Keterangan
1
Persiapan
I


II


III


2
Pembuatan
Umum


Modifikasi


Khusus


3
Komponen Penilaian
Disain


Bahan


Kreatifitas


Orisinalitas



Jumlah Skor




Nilai




Jambi,    September 2016
Guru,

……………………………..


Kriteria Penilaian:
Jumlah Skor    : 91 – 100 = Sangat Memuaskan
81 – 90   = Memuaskan
71 – 80   = Baik
61 – 70   = Cukup
< 60   = Kurang



Contoh Format Penilaian Karya Tulis
No
Kompetensi
Indikator
Skor
Keterangan
1
Kualitas Informasi
Akurat


Cermat


Teliti


Seksama


2
Pengorgaanisasian gagasan (masalah)
Tepat


Runtut


3
Kebahasaan
Rapi


Menarik



Jumlah Skor




Nilai




Jambi,     September 2016
Guru,

……………………………..













Contoh Kisi-kisi Instrumen Deskripsi Diri
Unsur Penilaian
Bobot Butir
Butir
Kompetensi
Ped
Pro
Kep
Sos
Pengembangan kualitas pembelajaran (A)
28
1.      Usaha kreatif




2.      Dampak perubahan




3.      Disiplin




4.      Keteladanan




5.      Keterbukaan terhadap kritik




Pengembangan keilmuan (B)
34
1.      Publikasi karya ilmiah




2.      Makna dan kegunaan




3.      Usaha inovatif




4.      Konsistensi




5.      Target kerja




Pengabdian kepada masyarakat (C)
16
1.      Implementasi kegiatan pengabdian




2.      Perubahan




3.      Dukungan masyarakat




4.      Kemampuan komunikasi




5.      Kemampuan kerjasama




Manajemen pengelolaan institusi (D)
12
1.      Implementasi kegiatan




2.      Dukungan institusi




3.      Kendali diri




4.      Tanggung jawab




5.      Keteguhan pada prinsip




Peningkatan kualitas kegiatan mahasiswa (E)
10
1.      Peran




2.      Implementasi kegiatan




3.      Interaksi




4.      Manfaat kegiatan